Lucu juga,
http://www.blazonry.com/scripting/usname.php
Hasilnya :
Antonius Mario Budi Setiawan from this day forward
you will also be known as HENRY BUSH
Rio's Note
Catatan yang ringan-ringan aja
Thursday, February 10, 2005
Wednesday, January 05, 2005
Renungan CInta
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda 'abstrak' : ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya.
Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.
Cinta sangat bingung sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
"Aduh! Maaf Cinta!" kata Kekayaan "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.
Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!" teriak Cinta. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.
Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!" teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu." kata Cinta. "Maaf Cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa.
Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengan suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu, barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.
Cinta segera menanyakan kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu" kata orang itu. "Tapi mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tak mengenalnya.
Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku." tanya Cinta heran. "Sebab," kata orang itu, "Hanya Waktu lah yang tau berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu..."
Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.
Cinta sangat bingung sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
"Aduh! Maaf Cinta!" kata Kekayaan "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.
Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!" teriak Cinta. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.
Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!" teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu." kata Cinta. "Maaf Cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa.
Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengan suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu, barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.
Cinta segera menanyakan kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu" kata orang itu. "Tapi mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tak mengenalnya.
Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku." tanya Cinta heran. "Sebab," kata orang itu, "Hanya Waktu lah yang tau berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu..."
Sunday, December 19, 2004
Aku Ingin Pulang....
Setelah hampir 3 bulan di Jakarta, aku akhirnya merasa kangen rumah, terutama kangen dengan keluargaku.
Kenapa di kota sebesar Jakarta aku malah merasa sangat kesepian....
Tidak ada yang membuatku bisa merasa nyaman. Orang kantor semuanya sibuk dengan pekerjaan, hari-hariku juga sebagian besar dihabiskan di kantor.
Kepada orang kantor aku biasanya bilang, karena ada kerjaan yg harus diselesaikan. Sebenarnya ini lebih merupakan pelarianku...
Di kost aku akan mudah merasa kesepian.
Tidak ada yang bisa diajak ngobrol, teman sehati, apakah jakarta begitu egois???
Oh Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini...
Beri kekuatan untuk dapat bertahan hidup di Jakarta.
Kenapa di kota sebesar Jakarta aku malah merasa sangat kesepian....
Tidak ada yang membuatku bisa merasa nyaman. Orang kantor semuanya sibuk dengan pekerjaan, hari-hariku juga sebagian besar dihabiskan di kantor.
Kepada orang kantor aku biasanya bilang, karena ada kerjaan yg harus diselesaikan. Sebenarnya ini lebih merupakan pelarianku...
Di kost aku akan mudah merasa kesepian.
Tidak ada yang bisa diajak ngobrol, teman sehati, apakah jakarta begitu egois???
Oh Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini...
Beri kekuatan untuk dapat bertahan hidup di Jakarta.
Saturday, December 11, 2004
KO Setelah 2 Bulan
Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh, akhirnya aku KO juga. Terkena komplikasi yang tidak main-main, flu, batuk dan badan lemes... Top banget.
Rasanya menderita sekali, aku lebih memilih makan sate ayam dari pada sakit demam.
Mana di Jakarta aku sendirian lagi, tiada yang menemani... Tapi ada juga "teman" dari luar kota yang peduli, thanks loo.
Ada juga yang ga peduli.. "Sakit tuh juga anugrah yang harus kamu sukuri loh..!!!!", lha enak aja dia ngomong kayak gtu, yang sakit khan diriku, bukan dirinya...
Mana sempat malu-maluin lagi waktu cari apotik, dengan santai tanya ke tukang parkir.. "Pak, apotik dekat sini mana ya???". Dengan tertawa keras tukang parkir itu menjawab, mas, dikanan jalan ada, dikiri jalan juga ada, diseberang jalan juga ada. Total ada 4 apotik di sekitar tempatku bertanya. Kok bisa ya aku sebelumnya ga liat tuh apotik.
Apakah flu bikin rabun ya???
Tambahan lagi, selama sakit, eh dirumah malah ada acara nonton film lagi, mana filmnya bagus-bagus lagi... Hari pertama sakit ya udah deh, cuma dikamar aja dengerin suara film action yang diputar, mangkel karena lagi pusing, ga bisa nonton lagi. Hari kedua juga sama, diam aja di kamar, Nah hari ketiga ga tahan juga, sempat nonton bentar Triple X, walaupun ga sampai tamat karena CDnya rusak, akhirnya jam 9 dan masuk kamar lagi. Bonusnya, kepala pusing n baru bisa tidur jam 2 pagi.
Ayo jaga kondisi baek-baek....
Rasanya menderita sekali, aku lebih memilih makan sate ayam dari pada sakit demam.
Mana di Jakarta aku sendirian lagi, tiada yang menemani... Tapi ada juga "teman" dari luar kota yang peduli, thanks loo.
Ada juga yang ga peduli.. "Sakit tuh juga anugrah yang harus kamu sukuri loh..!!!!", lha enak aja dia ngomong kayak gtu, yang sakit khan diriku, bukan dirinya...
Mana sempat malu-maluin lagi waktu cari apotik, dengan santai tanya ke tukang parkir.. "Pak, apotik dekat sini mana ya???". Dengan tertawa keras tukang parkir itu menjawab, mas, dikanan jalan ada, dikiri jalan juga ada, diseberang jalan juga ada. Total ada 4 apotik di sekitar tempatku bertanya. Kok bisa ya aku sebelumnya ga liat tuh apotik.
Apakah flu bikin rabun ya???
Tambahan lagi, selama sakit, eh dirumah malah ada acara nonton film lagi, mana filmnya bagus-bagus lagi... Hari pertama sakit ya udah deh, cuma dikamar aja dengerin suara film action yang diputar, mangkel karena lagi pusing, ga bisa nonton lagi. Hari kedua juga sama, diam aja di kamar, Nah hari ketiga ga tahan juga, sempat nonton bentar Triple X, walaupun ga sampai tamat karena CDnya rusak, akhirnya jam 9 dan masuk kamar lagi. Bonusnya, kepala pusing n baru bisa tidur jam 2 pagi.
Ayo jaga kondisi baek-baek....
Wednesday, December 01, 2004
Kepompong dan Kupu-kupu
Suatu hari dari lubang kecil muncul sesuatu. Seseorang sedang duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya namun dia tidak bisa lebih jauh lagi. Orang yang mengamati atdi, akhirnya memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayapnya mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang dalam waktu. Semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gelembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang.
Orang tersebut tidak mengerti dan memahami sebuah perjuangan dan proses yang akan dilalaui oleh kupu-kupu. Kebaikan dan ketergesaan orang tersebut justru menghambat dan mematikan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil. Sebenarnya, keberhentian kupu-kupu tadi merupakan jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.
Saya mohon Kekuatan….. dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.
Saya mohon kebajikan…. Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.
Saya memohon kemakmuran…... dan Tuhan memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja
Saya memohon keteguhan hati…. Dan Tuhan memberi saya bahaya untuk diatasi
Saya memohon cinta….. dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong
Saya memohon kemurahan/kebaikan hati… dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan
Saya tidak memperoleh yang saya inginkan.
Saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.
source : the internet
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayapnya mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang dalam waktu. Semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gelembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang.
Orang tersebut tidak mengerti dan memahami sebuah perjuangan dan proses yang akan dilalaui oleh kupu-kupu. Kebaikan dan ketergesaan orang tersebut justru menghambat dan mematikan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil. Sebenarnya, keberhentian kupu-kupu tadi merupakan jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.
Saya mohon Kekuatan….. dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.
Saya mohon kebajikan…. Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.
Saya memohon kemakmuran…... dan Tuhan memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja
Saya memohon keteguhan hati…. Dan Tuhan memberi saya bahaya untuk diatasi
Saya memohon cinta….. dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong
Saya memohon kemurahan/kebaikan hati… dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan
Saya tidak memperoleh yang saya inginkan.
Saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.
source : the internet
Thursday, November 11, 2004
Belajar dari Air
"Air selalu mencari tempat yang paling rendah/dasar."
Dear all,
Mari kita selalu membiasakan diri untuk berpikir dan bersikap seperti air, yaitu :
* selalu ada unsur bening di dalamnya,
* terus mengalir menuju tujuan walau harus menghadapi segala rintangan di perjalanannya,
* selalu rendah hati,
* selalu mencari dasar / akar persoalan sebelum memikirkan dan memformulasikan solusinya.
Kadang kita takut untuk menceburkan diri ke dalam air. Kebiasaan kita adalah 'bermain' di permukaan saja, padahal permukaan air itu kadang menipu; air yang bergelombang dan menakutkan belum tentu berbahaya, "air beriak tanda tak dalam" tapi sebaliknya juga "air tenang menghanyutkan", itu kata pepatah.
Maka hanya dengan menyelami masalah serta bersikap rendah hati, kita dapat berpikir lebih jernih. Dan kita selalu dapat bijaksana dalam menyingkapi setiap hal yang kita hadapi dalam hidup.
Dear all,
Mari kita selalu membiasakan diri untuk berpikir dan bersikap seperti air, yaitu :
* selalu ada unsur bening di dalamnya,
* terus mengalir menuju tujuan walau harus menghadapi segala rintangan di perjalanannya,
* selalu rendah hati,
* selalu mencari dasar / akar persoalan sebelum memikirkan dan memformulasikan solusinya.
Kadang kita takut untuk menceburkan diri ke dalam air. Kebiasaan kita adalah 'bermain' di permukaan saja, padahal permukaan air itu kadang menipu; air yang bergelombang dan menakutkan belum tentu berbahaya, "air beriak tanda tak dalam" tapi sebaliknya juga "air tenang menghanyutkan", itu kata pepatah.
Maka hanya dengan menyelami masalah serta bersikap rendah hati, kita dapat berpikir lebih jernih. Dan kita selalu dapat bijaksana dalam menyingkapi setiap hal yang kita hadapi dalam hidup.
Tuesday, October 26, 2004
Senyum
Sekali senyum curiga hilang
Dua kali senyum jadi sahabat
Tiga kali senyum hati penuh damai
Empat kali senyum beban jadi ringan
Lima kali senyum rejeki datang
Enam kali senyum gigi kering
Dua kali senyum jadi sahabat
Tiga kali senyum hati penuh damai
Empat kali senyum beban jadi ringan
Lima kali senyum rejeki datang
Enam kali senyum gigi kering
Subscribe to:
Posts (Atom)